Olahraga

Perjuangan Juara Eropa Junior Kompatriot Duo Popov, Kelainan Tulang Hampir Merenggut Karier Impian

×

Perjuangan Juara Eropa Junior Kompatriot Duo Popov, Kelainan Tulang Hampir Merenggut Karier Impian

Sebarkan artikel ini

BinjaiNews – Sebelum punya andalan dua bersaudara Toma Junior Popov dan Christo Popov, Prancis sebenarnya lebih dulu menyambut aset emas mereka lewat Arnaud Merkle.

Kiprah hebat Merkle sudah tercium di era 2018 ketika dia berhasil meraih medali emas Kejuaraan Eropa 2018.

Pada final saat itu, Merkle mampu menumbangkan Christo Popov.

Semenjak itu, karier Merkle muda diharapkan bisa segera naik dan mulai mengikuti jejak para rival sepantaran dia seperti Kunlavut Vitidsarn (Thailand) atau Lakshya Sen (India).

Namun, dibandingkan dua rival seangkatannya itu, Merkle justru tertinggal sekarang.

Dia masih duduk di peringkat 44 dunia dan sempat ‘menghilang’ dari peredaran kompetisi turnmaen BWF World Tour saat pemain lain sudah mulai transisi dari level junior ke senior.

Hanya baru-baru ini, Merkle kembali mulai terlihat menghiasi drawing turnamen.

Tahun lalu, dia berhasil merebut juara di Nantes International Challenge 2023 dan Reunion Open 2023 yang masih berada di wilayah negara Prancis.

Usut punya usut, ternyata menghilangnya Merkle dari kompetisi internasional beberapa tahun lalu tidak lepas dari sakit yang sempat dideritanya. Melansir dari BWF Badminton, pemain kelahiran tahun 2000 itu punya kelainan tulang di pinggulnya.

Setiap kali memaksakan bermain, bertambah pula rasa sakit yang menghampiri Merkle.

“Saya lahir dengan tulang tambahan yang mengganggu latihan deep lunge dan pergerakan saya,” kata Merkle.

“Sampai ada inflamasi yang terjadi, dan itu semakin sakit dan sangat sakit,” ujarnya.

Gara-gara hal itu, Merkle bahkan sempat tidak bisa berjalan. Hal itu terjadi setelah dia berkompetisi di turnaen Hylo Open 2022, yang akhirnya membuat dia segera mencari solusi dan naik meja operasi.

Tetapi, menjalani operasi bukanlah hal yang mudah bagi setiap atlet. Recovery yang lama tentu jadi hal yang ditakutkan karena akan menghilangkan feel bertanding dan mungkin pergerakan sudah tidak seleluasa sebelum operasi.

Untungnya, rehabilitasi yang harus dijalani Merkle saat usianya masih 22 tahun saat itu bisa berlangsung cepat. Ditambah dia adalah seorang atlet yang nutrisi dan makanannya dijaga.

“Butuh empat bulan lebih satu minggu,” kata dia.

“Level permainan saya tidak bisa sempurna awalnya, tapi saya terus memotivasi diri saya sendiri sepanjang waktu. Karena bulu tangkis adalah segalanya bagi saya.”

“Di satu titik, saya sempat mengira bahwa karier saya sudah tamat. Sebab awalnya mudah cuma 12 hari istirahat lalu jahitan diambil, saya bisa melihat progres saya setiap dua sampai tiga hari.”

“Tetapi tiba-tiba semuanya menjadi lambat,” ucapnya mengenang.

Sekarang, Merkle telah kembali rajin mengikuti turnamen BWF. Terbaru dia juga akan tampil pada Kejuaraan Eropa 2024 dan mendapatkan bye di babak 64 besar.

Target utamanya sekarang adalah bisa menembus peringkat 32 besar. Setelahnya, impian meraih medali di ajang Kejuaraan Dunia dan Olimpiade jadi destinasi selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *